NAPAK HILAL BANDUNG

Mencari Jejak-Jejak Hilal

Archive for Juni 2009

Awal Ramadhan 1429 H

leave a comment »

Awal Ramadhan 1429 H

Hasil Pengamatan Hilal

Itb Astronomi

NAD-Lhoknga:

31 Agustus 2008: hilal tidak terlihat karena cuaca berawan.

1 September 2008: cuaca mendung dan hujan deras. Sabit tipis Bulan tidak dapat dilihat.

————————————————————————-

 

JaBar-Bosscha:

31 Agustus 2008: cuaca mendung dan hujan rintik sehingga proses tayang langsung tidak dapat dilakukan. Karena mendung hilal tidak dapat terlihat.

1 September 2008: cuaca berawan tebal di tempat matahari tenggelam. Namun sabit tipis bulan sempat terlihat redup.

————————————————————————-

 

JaTeng-Semarang:

31 Agustus 2008: hilal tidak terlihat karena cuaca berawan.

1 September 2008: cuaca berawan namun sabit tipis bulan terlihat.

 

semarang 01 sep 08

————————————————————————-

 

JaTim-Tanjung Kodok:

31 Agustus 2008: cuaca berawan sehingga hilal tidak dapat terlihat.

1 September 2008: Sabit tipis bulan terlihat jelas.

 

Tanjung Kodok 01 sep 08

————————————————————————-

 

SulSel-Makassar:

31 Agustus 2008: cuaca mendung sehingga pengamatan tidak memungkinkan hilal terlihat.

1 September 2008: cuaca berawan tipis, sabit bulan yang tipis terlihat jelas.

 

Makassar 01 sep 08

————————————————————————-

 

NTT-Kupang:

31 Agustus 2008: cuaca berawan tipis, sehingga hilal tidak dapat terlihat.

1 September 2008: cuaca cerah dan sabit bulan yang tipis terlihat dengan jelas.

 

kupang 01 sep 08

————————————————————————-

 

Written by ufonesia

29 Juni 2009 at 6:44 PM

Ditulis dalam Uncategorized

Penentuan Hilal

leave a comment »

Dalam Islam, umur bulan ada dua, ada yang 29 hari, dan ada yang 30 hari; itu semua yang namanya hitungan Qomariah yang sama untuk seluruh dunia. Di dunia Islam, kalau kita mengikuti Rasulullah SAW, Rasul tidak pernah mengawali bulan kecuali beliau telah melihat rembulan.

Hilal didefinisikan sebagai bagian dari muka Bulan yang tersinari matahari beberapa saat setelah matahari terbenam dab berbentuk sabit jika dilihat dari muka bumi. Untuk bisa diamati (dirukyat) Hilal (sabit) harus memenuhi parameter-paramater geometri tertentu seperti: tinggi bulan > 2 derajat, luas hilal > 1.5%, separasi dengan matahari >10 derajat dan umur hilal sejak ijtima’ >7 jam. Jika parameter-parameter tersebut tidak dipenuhi, maka walau Bulan tiba diatas ufuk tetapi cahaya sabitnya belum tampak, maka Bulan masih kelihatan sebagai pringan gelap, sehingga Hilalnya akan tidak bisa diru’yat.

Di Indonesia, saat ini ada dua aliran di dalam perhitungan awal bulan, yang pertama adalah aliran yang mengikuti perhitungan yang biasa disebut dengan aliran hisab; sedang aliran yang kedua adalah aliran hisab rukyat yaitu aliran yang bukan hanya menurut perhitungan saja tetapi juga perlu pembuktian yang disebut dengan rukyat. Departemen Agama menggunakan hisab rukyat di dalam penentuan awal bulan Islam.

Sidang Itsbat

Untuk penentuan awal bulan Ramadhan dan Syawal, Departemen Agama menyelenggarkan sidang Itsbat yang merupakan sidang terbuka pada tanggal 29 Syaban atau Ramadhan. Jika pada tanggal 29 sudah terlihat hilal berarti besoknya merupakan bulan baru (bulan Ramadhan atau Syawal); jika hilal tidak terlihat maka tanggal dibulatkan menjadi 30.

Pada sidang Itsbat, semua organisasi Islam dikumpulkan; sebelum sidang dilaksanakan, ahli hilal di sejumlah wilayah Indonesia melakukan pengamatan(memantau dan melihat) hilal untuk dapat memberikan masukkan pada Departemen Agama. Jika satu diantara sejumlah wilayah ada yang sudah melihat hilal, maka pemerintah akan memutuskan melalui sidang itsbat yang merupakan hasil keputusan bersama.

Sidang Itsbat mengambil keputusan berdasarkan teori dan kenyataan; teorinya melalui hisab, sedang kenyataannya lewat rukyat.

Pengamatan Langsung Hilal 

Untuk memberikan informasi hilal secara lebih luas dan terbuka kepada masyarakat, Departemen Komunikasi dan Informatika dan Departemen Agama bekerja sama dengan Observatorium Bosscha – FMIPA, Institut Teknologi Bandung, dan PT Telkom Indonesia, PT Telkomsel, menyediakan layanan tayangan langsung hilal 1 Syawal 1428 H melalui web http://www.as.itb.ac.id/hilal/  dan http://plasa2.plasa.com/hilal pada hari Kamis 11 Oktober dan Jum’at 12 Oktober mendatang mulai pukul 16.30 WIB. Melalui tayangan langsung ini diharapkan agar masyarakat luas berkesempatan untuk dapat ikut menyaksikan hilal 1 Syawal 1428 H dan memahami fenomena alam yang terkait.

(sumber: wawancara Direktur Ur. Agama Islam dan Pembinaan Syariah-Dep. Agama dng Koran Tempo)

Depkominfo

Written by ufonesia

29 Juni 2009 at 6:30 PM

Ditulis dalam Uncategorized

Hilal Awal Rajab 1430 Hijriah (24 Juni 2009 M) Hari Ke tiga

leave a comment »

Hilal Awal Rajab 1430 Hijriah (24 Juni 2009 M) 

Pengamat

N.Sopwan

M.Irfan

3 lainnya dari Salman.

 

Hasil Pengamatan:

Hilal teramati

 Dokumentasi Pengamatan

napakhilal bandung

Wassalam

Written by ufonesia

27 Juni 2009 at 8:28 PM

Ditulis dalam Hilal Awal

Pengamatan Hilal Awal Rajab 1430 Hijriah,Hari Kedua.

with 3 comments

Pengamatan Hilal Awal Rajab 1430 Hijriah 

Hari Kedua

(24 Juni 2009)

 

Lokasi:

Jembatan Layang Pasupati, Bandung – Indonesia,

107o36’ Bujur Timur, 6o54’ Lintang Selatan,

zona waktu +7


Cuaca Lokasi:

–          Awan tebal pada arah Barat,

–          piringan Matahari terlihat sampai terbenam,

–         Matahari terbenam pada ketinggian 3o dari data hasil perhitungan karena terhalang oleh pohon

 

Pengamat:

N. Sopwan, 

M. Irfan,

Candra F.,

Gilang N. P.

S.Aji

 

Metode Pengamatan:

Mata telanjang

Canon EOS 400D Digital

Binokuler

 

Keadaan Bulan-Matahari saat Matahari terbenam:

Matahari Terbenam: 17:44 WIB

Bulan Terbenam: 19:24 WIB

 

Keadaan Hilal Pertama kali terlihat:

–          Jam: 18:19 WIB

–          Tinggi Bulan: 13,8o

–          Azimuth Bulan: 294o

–          Fraksi Iluminasi Bulan: 4%

–          Umur Hilal: 39 jam 44 menit

 

  Dokumentasi Pengamatan :

 

 

 

     Hasil Pengamatan:

Hilal teramati

Dalam Format pdf

Dalam Format AVI/Video

napakhilal bandung

Wassalam

 

 

Written by ufonesia

24 Juni 2009 at 7:45 PM

Ditulis dalam Hilal Awal

Devinisi Hilal, Rukyat dan Hisab.

with 2 comments

Hilal, Rukyat, dan Hisab

Crescent Moon Alhamdulillah…Allah menyampaikan diri kita semua pada bulan suci Ramadhan.Menjelang bulan Ramadhan, kerap kita dengar istilah hilal, rukyat, dan hisab.Apa itu hilal, rukyat, hisab? Apa kaitannya dengan bulan Ramadhan?

 

Berikut ini kumpulan beberapa artikel yang saya temukan mengenai hilal, rukyat, dan hisab. Di bagian akhir diperlihatkan pula hisab hilal awal dan akhir Ramadhan 1428 H.

Sumber : Untoro

 

HILAL

Hilal adalah penampakan bulan yang paling awal terlihat menghadap bumi setelah bulan mengalami konjungsi/ijtimak.
Bulan awal ini (bulan sabit tentunya) akan tampak di ufuk barat (maghrib) saat matahari terbenam.

Ijtimak/konjungsi adalah peristiwa yang terjadi saat jarak sudut (elongasi) suatu benda dengan benda lainnya sama dengan nol derajat.
Dalam pendekatan astronomi, konjungsi merupakan peristiwa saat matahari dan bulan berada segaris di bidang ekliptika yang sama. Pada saat tertentu, konjungsi ini dapat menyebabkan terjadinya gerhana matahari.

Hilal merupakan kriteria suatu awal bulan. Seperti kita ketahui, dalam Kalender Hijriyah, sebuah hari diawali sejak terbenamnya matahari waktu setempat, dan penentuan awal bulan (kalender) tergantung pada penampakan hilal/bulan. Karena itu, satu bulan kalender Hijriyah dapat berumur 29 hari atau 30 hari.

“Mereka bertanya kepadamu tentang hilal. Katakanlah: “Hilal itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji…” [Al Baqoroh(2):189]

HISAB

Secara harfiyah bermakna ‘perhitungan’.
Di dunia Islam istilah ‘hisab’ sering digunakan sebagai metode perhitungan matematik astronomi untuk memperkirakan posisi matahari dan bulan terhadap bumi.

Penentuan posisi matahari menjadi penting karena umat Islam untuk ibadah shalatnya menggunakan posisi matahari sebagai patokan waktu sholat.

Sedangkan penentuan posisi bulan untuk mengetahui terjadinya hilal sebagai penanda masuknya periode bulan baru dalam Kalender Hijriyah. Ini penting terutama untuk menentukan awal Ramadhan saat orang mulai berpuasa, awal Syawwal saat orang mangakhiri puasa dan merayakan Idul Fithri, serta awal Dzulhijjah saat orang akan wukuf haji di Arafah (9 Dzulhijjah) dan hari raya Idul Adha (10 Dzulhijjah)

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” [Yunus(10):5]

“Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.” [ArRahmaan(55):5]

RUKYAT

Rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang pertama kali tampak setelah terjadinya ijtimak. Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang, atau dengan alat bantu optik seperti teleskop.
Aktivitas rukyat dilakukan pada saat menjelang terbenamnya matahari pertama kali setelah ijtimak (pada waktu ini, posisi Bulan berada di ufuk barat, dan Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari). Apabila hilal terlihat, maka pada petang waktu setempat telah memasuki tanggal 1.

Perihal penentuan bulan baru, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberi perhatian khusus pada Sya’ban dan Ramadhan

Hadits dari Abi Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya (hilal bulan Syawal). Jika kalian terhalang awan, maka sempurnakanlah Sya’ban tiga puluh hari.” (HSR. Bukhari 4/106, dan Muslim 1081).

CARA PENENTUAN AWAL BULAN KALENDER HIJRIYAH

Di Indonesia, terdapat beberapa kriteria yang digunakan baik oleh pemerintah maupun organisasi Islam untuk menentukan awal bulan pada Kalender Hijriyah:

  1. Rukyatul HilalRukyatul Hilal adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan merukyat (mengamati) hilal secara langsung. Apabila hilal (bulan sabit) tidak terlihat (atau gagal terlihat), maka bulan (kalender) berjalan digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari.
  2. Wujudul Hilal (juga disebut ijtimak qoblal qurub)Kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan prinsip: Jika pada setelah terjadi ijtimak (konjungsi), Bulan terbenam setelah terbenamnya matahari, maka pada petang hari tersebut dinyatakan sebagai awal bulan (kalender) Hijriyah, tanpa melihat berapapun sudut ketinggian (altitude) Bulan saat Matahari terbenam.
  3. Imkanur Rukyat MABIMSImkanur Rukyat adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah yang ditetapkan berdasarkan Musyawarah Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), dan dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan Hijriyah pada Kalender Resmi Pemerintah.

    Kriteria yang digunakan adalah sebagai berikut:

    • Pada saat matahari terbenam, ketinggian (altitude) Bulan di atas cakrawala minimum 2°, dan sudut elongasi (jarak lengkung) Bulan-Matahari minimum 3°, atau
    • Pada saat bulan terbenam, usia Bulan minimum 8 jam, dihitung sejak ijtimak.Di Indonesia, secara tradisi pada petang hari pertama sejak terjadinya ijtimak (yakni setiap tanggal 29 pada bulan berjalan), Pemerintah Republik Indonesia melalui Badan Hisab Rukyat (BHR) melakukan kegiatan rukyat (pengamatan visibilitas hilal), dan dilanjutkan dengan Sidang Itsbat, yang memutuskan apakah pada malam tersebut telah memasuki bulan (kalender) baru, atau menggenapkan bulan berjalan menjadi 30 hari.Di samping metode Imkanur Rukyat di atas, juga terdapat kriteria lainnya yang serupa, dengan besaran sudut/angka minimum yang berbeda.
  4. Rukyat Globalkriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah yang menganut prinsip bahwa: jika satu penduduk negeri melihat hilal, maka penduduk seluruh negeri berpuasa (dalam arti luas telah memasuki bulan Hijriyah yang baru) meski yang lain mungkin belum melihatnya.

RAMADHAN 1428 H

  1. Hisab Untuk melakukannya, saya menggunakan software Stellarium (thx to Jay).

    Kondisi tanggal 29 Sya’ban 1428 H (12 September 2007M):

    Dapat dilihat di ufuk barat, menjelang matahari terbenam, posisi hilal sudah tinggi menandakan masuknya bulan baru (Ramadhan).

    Kondisi tanggal 29 Ramadhan 1428 H (11 Oktober 2007M):

    Bulan terbenam setelah terbenamnya matahari meskipun dengan sudut ketinggian yang kecil (di bawah 0,5°).
    Ini sudah cukup menandakan masuknya bulan Syawwal jika menggunakan wujudul hilal sebagai syarat bulan baru, namun perlu menggenapkan menjadi 30 hari jika menggunakan kriteria lain.

  2. Rukyat
    Ada situs yang menampilkan hilal dari beberapa kota di Indonesia secara langsung (Live Hilal – Departemen Astronomi ITB). Sayangnya saat saya coba, link yang tersedia sedang tidak dapat diakses.

     

    Untuk penentuan awal bulan Syawwal tentunya belum dapat dilihat sekarang, baru dapat dilihat pada tanggal 29 Ramadhan 1428 H (11 Oktober 2007M) nanti.

Wallahu’alam.

Sumber:

Written by ufonesia

23 Juni 2009 at 7:22 PM

Ditulis dalam Artikel Terkait

Hilal Awal Rajab 1430 Hijriah,Hari Pertama.

with one comment

Hilal Awal Rajab 1430 Hijriah

Hilal awal Rajab 1430 Hijriah diawali dengan Bulan Baru (Newmoon, Ijtimak, Konjungsi) 23 Juni 2009, 02:35:00 WIB. Untuk wilayah Indonesia, hilal Awal Rajab 1430 Hijriah dapat dilihat pada sore hari 23 Juni 2009.

 

Gambar 1. visibiltas hilal 23 Juni 2009 menurut criteria Odeh  (accurate times)

 

Gambar 1 menghitung kemungkinan teramatinya hilal diseluruh dunia berdasarkan kriteria Odeh pada accurate times, untuk wilayah Indonesia diprediksi hilal akan sulit teramati dengan mata telanjang. Keadaan hilal lebih jauh untuk wilayah Indonesia dapat dilihat pada gambar 2 dan gambar 3. Dengan perhitungan numeric, fraksi iluminasi Bulan (f) untuk wilayah Indonesia berkisar antara 0.4%-0.7% (gambar 2). Sedangkan ketinggian Bulan diatas horizon (Altitude Bulan) berkisar dari 5o-8o (gambar 3).

 

Gambar 2. Fraksi Iluminasi Bulan 23 Juni 2009 pada saat Matahari terbenam waktu lokal untuk wilayah Indonesia

 

 

Gambar 3. Ketinggian Bulan diatas horizon 23 Juni 2009 pada saat Matahari terbenam waktu lokal untuk wilayah Indonesia

 

Pengamatan Hilal Awal Rajab 1430 Hijriah

(23 Juni 2009)

Lokasi:

Jembatan Layang Pasupati, Bandung – Indonesia,

107o36’ Bujur Timur, 6o54’ Lintang Selatan,

zona waktu +7

 

Pengamat:

N. Sopwan

M. Irfan

 

Metode Pengamatan:

Mata telanjang

Binokuler

 

Keadaan Bulan-Matahari saat Matahari terbenam:

Bulan Baru: 23 Juni 2009, 02:35 WIB

Matahari Terbenam: 17:43 WIB

Bulan Terbenam: 18:19

Beda waktu terbenam: 36 menit

Umur Bulan: 15 jam 08 menit

Fraksi Iluminasi Bulan: 0,6%

Tinggi Bulan: 7,2o

Azimuth Bulan: 296,2o

Azimuth Matahari: 293,5o

 

Cuaca di Lokasi:

Mendung, Matahari terbenam tidak teramati.

 

Hasil Pengamatan:

Hilal Tidak Teramati/GAGAL.

 Dokumentasi Pengamatan

napakhilal bandung

Wassalam

Written by ufonesia

23 Juni 2009 at 6:27 PM

Ditulis dalam Hilal Awal

Data Pengamatan “Hilal Rajab 1430”

leave a comment »

Pasupati Bandung

107 o 36 ‘BT  6 o 54 ‘LS

Altitude dan Azimuth Bulan dan Matahari

23  Jun  2009

Alt.         Az.         Fraksi        Alt.          Az.

Bulan    Bulan   Iluminasi    Sun           Sun

j    m           o           o         Bulan         o            o

17 : 00     16.3     298.6     0.005     09.3      295.1

17 : 01     16.1     298.5     0.005     09.0      295.1

17 : 02     15.9     298.5     0.005     08.8      295.0

17 : 03     15.6     298.4     0.005     08.6      295.0

17 : 04     15.4     298.3     0.005     08.4      294.9

17 : 05     15.2     298.3     0.005     08.1      294.9

17 : 06     15.0     298.2     0.005     07.9      294.9

17 : 07     14.8     298.2     0.005     07.7      294.8

17 : 08     14.6     298.1     0.006     07.5      294.8

17 : 09     14.4     298.0     0.006     07.2      294.7

17 : 10     14.2     298.0     0.006     07.0      294.7

17 : 11     14.0     297.9     0.006     06.8      294.6

17 : 12     13.8     297.8     0.006     06.6      294.6

17 : 13     13.6     297.8     0.006     06.3      294.6

17 : 14     13.3     297.7     0.006     06.1      294.5

17 : 15     13.1     297.7     0.006     05.9      294.5

17 : 16     12.9     297.6     0.006     05.7      294.4

17 : 17     12.7     297.6     0.006     05.4      294.4

17 : 18     12.5     297.5     0.006     05.2      294.4

17 : 19     12.3     297.4     0.006     05.0      294.3

17 : 20     12.1     297.4     0.006     04.8      294.3

17 : 21     11.9     297.3     0.006     04.5      294.2

17 : 22     11.7     297.3     0.006     04.3      294.2

17 : 23     11.5     297.2     0.006     04.1      294.2

17 : 24     11.2     297.2     0.006     03.8      294.1

17 : 25     11.0     297.1     0.006     03.6      294.1

17 : 26     10.8     297.1     0.006     03.4      294.1

17 : 27     10.6     297.0     0.006     03.2      294.0

17 : 28     10.4     297.0     0.006     02.9      294.0

17 : 29     10.2     296.9     0.006     02.7      294.0

17 : 30     10.0     296.9     0.006     02.5      293.9

17 : 31     09.8     296.8     0.006     02.3      293.9

17 : 32     09.6     296.8     0.006     02.0      293.9

17 : 33     09.3     296.7     0.006     01.8      293.8

17 : 34     09.1     296.7     0.006     01.6      293.8

17 : 35     08.9     296.6     0.006     01.4      293.8

17 : 36     08.7     296.6     0.006     01.1      293.7

17 : 37     08.5     296.5     0.006     00.9      293.7

17 : 38     08.3     296.5     0.006     00.7      293.7

17 : 39     08.1     296.4     0.006     00.4      293.6

17 : 40     07.9     296.4     0.006     00.2      293.6

17 : 41     07.6     296.3     0.006     00.0      293.6

17 : 42     07.4     296.3     0.006     -00.2     293.5

17 : 43     07.2     296.2     0.006     -00.5     293.5

17 : 44     07.0     296.2     0.006     -00.7     293.5

17 : 45     06.8     296.1     0.006     -00.9     293.5

17 : 46     06.6     296.1     0.006     -01.1     293.4

17 : 47     06.4     296.1     0.006     -01.4     293.4

17 : 48     06.2     296.0     0.006     -01.6     293.4

17 : 49     05.9     296.0     0.006     -01.8     293.3

17 : 50     05.7     295.9     0.006     -02.1     293.3

17 : 51     05.5     295.9     0.006     -02.3     293.3

17 : 52     05.3     295.8     0.006     -02.5     293.3

17 : 53     05.1     295.8     0.006     -02.7     293.2

17 : 54     04.9     295.8     0.006     -03.0     293.2

17 : 55     04.7     295.7     0.006     -03.2     293.2

17 : 56     04.5     295.7     0.006     -03.4     293.2

17 : 57     04.2     295.6     0.006     -03.7     293.1

17 : 58     04.0     295.6     0.006     -03.9     293.1

17 : 59     03.8     295.6     0.006     -04.1     293.1

18 : 00     03.6     295.5     0.006     -04.3     293.1

18 : 01     03.4     295.5     0.006     -04.6     293.1

18 : 02     03.2     295.5     0.006     -04.8     293.0

18 : 03     03.0     295.4     0.006     -05.0     293.0

18 : 04     02.7     295.4     0.006     -05.2     293.0

18 : 05     02.5     295.3     0.006     -05.5     293.0

18 : 06     02.3     295.3     0.006     -05.7     293.0

18 : 07     02.1     295.3     0.006     -05.9     292.9

18 : 08     01.9     295.2     0.006     -06.2     292.9

18 : 09     01.7     295.2     0.006     -06.4     292.9

18 : 10     01.5     295.2     0.006     -06.6     292.9

18 : 11     01.2     295.1     0.006     -06.8     292.9

18 : 12     01.0     295.1     0.006     -07.1     292.8

18 : 13     00.8     295.1     0.006     -07.3     292.8

18 : 14     00.6     295.0     0.006     -07.5     292.8

18 : 15     00.4     295.0     0.006     -07.8     292.8

18 : 16     00.2     295.0     0.006     -08.0     292.8

18 : 17     00.0     294.9     0.006     -08.2     292.8

18 : 18     -00.3    294.9     0.006     -08.4     292.7

18 : 19     -00.5    294.9     0.006     -08.7     292.7

18 : 20     -00.7    294.8     0.006     -08.9     292.7

18 : 21     -00.9    294.8     0.006     -09.1     292.7

Written by ufonesia

23 Juni 2009 at 8:47 AM

Ditulis dalam Hilal Awal