NAPAK HILAL BANDUNG

Mencari Jejak-Jejak Hilal

PERAN HAKIM PENGADILAN AGAMA DALAM PENENTUAN AWAL BULAN HIJRIYAH

leave a comment »

PENULIS : Achmad Fathoni Ramli
JUDUL : PERAN HAKIM PENGADILAN AGAMA DALAM PENENTUAN AWAL BULAN HIJRIYAH

Sumber

Sebentar lagi kita umat Islam segera melaksanakan shaum Ramadlan 1429 Hijriyah, berdasarkan hisab, apakah hal itu dimulai pada tanggal satu September ataukah 02 September 2008. Kemudian diikuti dengan satu syawal, apakah pada tanggal 30 September ataukah 01 Oktober 2008? Tetapi semuanya itu berpangkal kepada ketetapan satu Ramadlan oleh Pemerintah dan adanya semangat “athi’ullah wa ‘athiur Rasul wa ulil Amri minkum”.

Kegiatan untuk menghitung terjadinya ramadlan, syawal maupun wukuf, telah dilakukan oleh para pakar hisab dan telah menjadi hasil ketetapan di Badan Hisab Rukyat Pusat yang anggota-anggotanya dari berbagai ormas Islam yang ada di Indonesia, terutama NU dan Muhammadiyah.

Kalau secara explisit Muhammadiyah telah dengan pasti mengumumkan tanggal satu Ramadlan jatuh pada hari Senin, 01 September 2008, sedangkan NU menunggu hasil rukyat. Padahal di dalam hasil penetapan Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam pada tanggal 27-29 Februari 2008 M / 20-22 Shafar 1429 H, di Hotel Ria Diani, Jalan Raya Puncak III, Cibogo Bogor Jawa Barat bersama dengan anggota BHR Pusat telah dinyatakan bahwa “Untuk pelaksanaan ibadah (1 Ramadlan) menunggu hasil sidang itsbat awal Ramadlan 1429 H yang dipimpin oleh Menteri Agama”.

Salah satu keputusan bersama tsb juga berupa pengertian tentang rukyatul hilal. Rukyatul hilal adalah melihat bulan dengan mata atau dengan alat untuk mengetahui awal bulan qamariyah. Keteraturan peredaran bulan memungkinkan manusia untuk mengetahui posisi-posisi bulan melalui hisab (perhitungan). Hisab yang akurat adalah yang terbuktikan oleh rukyat yang cermat, sehingga hisab yang akurat memiliki posisi yang sama dengan rukyat yang cermat sebagai cara untuk menentukan awal bulan qamariyah. Saat ini redefinisi rukyatul hilal perlu dilakukan, karena selama ini ada tiga definisi rukyatul hilal: hilal nyata (dengan rukyat bil fi’li), hilal potensial (dengan imkanur rukyat), dan hilal teoritik (dengan wujudul hilal). Dalil-dalil syar’i tidak memberikan definisi teknis hilal dan cara rukyatul hilal, sehingga pendekatannya lebih menekankan pada makna bahasa. Perkembangan mutakhir mengarahkan pendefinisian rukyatul hilal berdasarkan kriteria hisab rukyat untuk aplikasi pada rukyat maupun hisab. Untuk pembuatan taqwim standar kriteria hisab rukyat tersebut perlu dikaji ulang.

Awal Ramadlan 1429 H

Semua sistem hisab sepakat bahwa ijtima` menjelang awal bulan Ramadlan 1429 H jatuh pada hari Ahad, 31 Agustus 2008 M, bertepatan dengan tanggal 29 Sya’ban 1429 H sekitar pukul 03:00 WIB. Pada hari rukyat 29 Sya’ban 1429 H, Ahad (31 Agustus 2008 M) ketinggian hilal di seluruh wilayah Indonesia sudah di atas ufuk antara 4° 17′ 32” sampai dengan 5° 20′ 17”. Untuk pelaksanaan ibadah (1 Ramadlan) menunggu hasil sidang itsbat awal Ramadlan 1429 H yang dipimpin oleh Menteri Agama.

Awal Syawal 1429 H

Semua sistem hisab sepakat bahwa ijtima` menjelang awal bulan Syawal 1429 H jatuh pada hari Senin, 29 September 2008 M, bertepatan dengan tanggal 29 Ramadlan 1429 H sekitar pukul 15:13 WIB. Pada hari rukyat 29 Ramadlan 1429 H, Senin (29 September 2008 M) ketinggian hilal di seluruh wilayah Indonesia masih di bawah ufuk antara -2° 21′ 49” sampai dengan -1° 18′ 02”. Untuk pelaksanaan ibadah (1 Syawal) menunggu hasil sidang itsbat awal Syawal 1429 H yang dipimpin oleh Menteri Agama.

Berdasarkan pengalaman selama ini, apabila hasil hisab menentukan hilal di atas 2° apalagi sekarang sudah di atas 4°, maka para ahli rukyatul hilal, ada satu atau bahkan beberapa orang yang mengaku melihat hilal di atas ufuk dan dengan demikian, sudah dapat dipastikan bahwa seluruh umat Islam di Indonesia sepakat dan sama dalam melaksanakan hari pertama Ramadlan.

Lain halnya yang didapat hasil hisab di bawah 2°. Biasanya yang terjadi selama ini, sebagian umat Islam sudah memulainya, dan yang lainnya menunggu hasil rukyat. Diperoleh data selama ini, rukyatul hilal dalam posisi di bawah 2° sangat sulit untuk melihatnya, sehingga sering terjadi perbedaan awal Ramadlan ataupun awal syawal bahkan untuk hari wukuf dan idul Adha.

Bagaimana sikap umat Islam dan ormas dalam menyikapi hasil hisab di atas? Kemungkinan dalam memulai satu Ramadlan akan sama satu sama lain karena hasil hisab akan didukung dengan hasil rukyat (dengan adanya orang yang mengaku melihatnya di satu tempat atau beberapa tempat di Indonesia), meskipun posisi hilal antara 2° dan 4° belum tentu dapat terlihat, karena dapat terkoreksi dengan cuaca dimana rukyat dilaksanakan.

Oleh karena itu, perlu kecermatan dalam menanggapi adanya kesaksian rukyatul hilal.

Bagaimana juga posisi dan peran Hakim Pengadilan Agama dalam menentukan itsbat rukyatul hilal?
Berdasarkan Pasal 2 UU Nomor 3 Tahun 2006: “Peradilan Agama adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara tertentu sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini”.

Written by ufonesia

7 Juni 2009 pada 5:31 PM

Ditulis dalam Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: