NAPAK HILAL BANDUNG

Mencari Jejak-Jejak Hilal

Archive for the ‘Artikel Terkait’ Category

GERHANA MATAHARI PARSIAL 15 Januari 2010

with 7 comments

Download tulisan ini secara lengkap untuk membantu pengamatan dilapangan. CLIK DI SINI.

Daftar Isi :
– GERHANA MATAHARI PARSIAL
– TITIK MAKSIMUM GERHANA CINCIN
– DETIK-DETIK GERHANA MATAHARI
– KUMPULAN CERITA RAKYAT TENTANG GERHANA
– PERINGATAN ATAU KONSPIRASI???
– ARSIP DARI NASA

Size : File Size: 1.01 MB

==================================================

Oleh : Muhammad Irfan

Indonesia sekali lagi akan disuguskan fenomena Gerhana Matahari Parsial yang sebelumnya diawal tahun 15 Muharrom 1431 H./ 01 Januari 2010 M pukul 02:23 ditampakan Gerhana Bulan Parsial yang sebenarnya tanpa disadari atau tidak, banyak orang tak tahu sebenarnya pada malam pergantian tahun itu terjadi fenomena Gerhana Bulan yang di perkirakan terjadi 19 Tahun sekali, berati pada tahun 2029 akan terjadi lagi Gerhana Bulan Parsial dimalam pergantian tahun sama seperti 01 Januari pecan lalu.

Sepertnya saya tak perlu lagi menjelaskan kenapa bisa terjadi Gerhana atau sebab muabab proses terjadinya Gerhana itu, saya anggap anda sudah fasih akan dasar-dasar terjadinya gerhana.

15 hari setelah gerhana bulan, tepatnya hari Jum’at Pon, 29 Muharrom 1431 H./ 15 Januari 2010 M. mulai pukul 05:14 GMT sampai 09:00 GMT. Insya Alloh akan terjadi Gerhana Matahari Cincin. Pusat tengah gerhana berada di tengah samudera Hindia, Lintang 01° 38′ LU, Bujur 69° 18′ BT. [RHI Indonesia].

Gerhana kali ini adalah gerhana terlama di sepuluh tahun awal Melenium karena Gerhana kali ini berdurasi sekitar 11menit 08detik dan titik maksimum Gerhana terjadi di Samudra Hindia serta sedikit wilayah Indonesia WIB dan WITA, total jalur punmbra kira-kira 333Km.

Gambar di atas menunjukan kronologi dan illustrasi awal terjadinya Gerhana Matahari Parsial dengan magnitude Matahari sekitar -26.78 dilihat dari Bandung Jawabarat 14:44WIB.

Gambar di atas menunjukan kronologi dan illustrasi awal terjadinya Gerhana Matahari Parsial dengan magnitude Matahari sekitar -5.80 dilihat dari Bandung Jawabarat 15:21WIB.

Gambar di atas menunjukan kronologi dan illustrasi awal terjadinya Gerhana Matahari Parsial dengan magnitude Matahari sekitar kembali menjadi -26.78 dilihat dari Bandung Jawabarat 15:21WIB.


TITIK MAKSIMUM GERHANA CINCIN

Sebenarnya Gerhana kali ini adalah Gerhana Cincin tapi berhubung lokasi pengamatan kita barada di Indonesia maka kita hanya berkesempatan menyaksikan Gerhana Parsial/Sebagian. Seperti yang saya sebutkan tadi titik maksimum Gerhana Cicin terjadi di Samudra Hindia, saya akan coba melakukan pengamatan citra Gerhana Cincin dengan bantuan software Astronomi Stellarium v.10

Gambar di atas menunjukan kronologi dan illustrasi awal terjadinya Gerhana Matahari Cincin dengan magnitude Matahari sekitar -26.78 dilihat dari Chongqing. China 14:22 Waktu China.

Gambar di atas menunjukan kronologi dan illustrasi awal terjadinya Gerhana Matahari Cincin dengan magnitude Matahari sekitar -26.78 dilihat dari Chongqing. China 15:52 Waktu China.

(Sumber Pic: NASA)

Gambar diatas ini menunjukan Averege Clound untuk bulan Januari, bisa dilihat disamping kiri bagan, ketebalan awan dari angka 0% sampai dengan 90% setelah itu bisa dilihat di bagan utama adalah peta dunia dan kepulauan Indonesia terutama di pulau jawa tertutup awan setebal 90% jadi bersiap-siap lah untuk kecewa karena ketebalan awan berpotensi hujan. Yaa mudah-mugahan saja tidak 😀

DETIK-DETIK GERHANA MATAHARI 15 JANUARI 2010

DARI KOTA-KOTA BESAR DI INDONESIA

NO NAMA KOTA JAM AWAL AKHIR LAMA LEBAR
1 Banda Aceh WIB 13:50 16:52 3:02 57,90%
2 Medan WIB 14:01 16:46 2:45 47,40%
3 Padang WIB 14:06 16:32 2:26 34,00%
4 Pekan Baru WIB 14:10 16:35 2:25 35,20%
5 Bengkulu WIB 14:14 16:20 2:06 24,30%
6 Jambi WIB 14:20 16:26 2:06 26,30%
7 Tanjung Pinang WIB 14:22 16:34 2:12 30,90%
8 Palembang WIB 14:24 16:20 1:56 21,60%
9 Bandar Lampung WIB 14:29 16:08 1:39 15,40%
10 Pangkal Pinang WIB 14:29 16:21 1:52 21,10%
11 Jakarta WIB 14:38 16:02 1:24 11,10%
12 Serang WIB 14:34 16:03 1:29 12,30%
13 Bandung WIB 14:44 15:55 1:11 8,00%
14 Semarang WIB 15:00 15:45 0:45 3,30%
15 Yogyakarta WIB 15:06 15:37 0:31 1,60%
16 Tuban WIB 15:15 15:35 0:20 0,70%
17 Gresik WIB —- —- —- —-
18 Surabaya WIB —- —- —- —-
19 Pontianak WIB 15:40 16:25 0:45 20,40%
20 Palangkaraya WIB 15:01 16:07 1:06 8,10%
21 Banjarmasin WITA 16:08 16:58 0:50 4,50%
22 Denpasar WITA —- —- —- —-
23 Mataram WITA —- —- —- —-
24 Samarinda WITA 16:09 17:09 1:00 7,40%
25 Makassar WITA —- —- —- —-
26 Palu WITA 16:23 16:59 0:36 2,70%
27 Kendari WITA —- —- —- —-
28 Kupang WITA —- —- —- —-
29 Gorontalo WITA 16:31 16:58 0:27 1,70%
30 Manado WITA 16:33 17:00 0:27 1,70%

(Sumber : RHI Indonesia)

KUMPULAN CERITA RAKYAT TENTANG GERHANA

Sedikit saya akan angkat lagi ingatan anda mengenai cerita rakyat atau yang kita kenal sebagai mitos-mitos yang beredar di masyarakat selama ini, mitos mengenai Gerhana Matahari banyak beredar di angkatan 80han ke atas, entah siapa pencetus mitos tersebut.

Tidak terlacak siapa dan dari mana asal mula mitos tapi ada juga sebuah cerita yang terlacak, dulu sempat dapat halaman Website tapi lupa namanya apa. Kira-kira caritanya tentang mitologi Prabu Kalarahu ada yang inget…?

Sepertinya kalau tidak salah ada yang namanya Prabu Kalarau beliau seorang raja iblis yang menguasai Anatariksa lagi mencari tirta amerta yang konon bermanfaat dapat menghidupkan orang yang telah meninggal dan juga menjadikan hidupnya abadi sepanjang masa. Air suci tersebut hanya dimiliki oleh para Dewa dengan cara bersembunyi dikegelapan malam, raja gandarwa itu menantikan saat-saat lengahnya para Dewa. Hingga pada suatu ketika keinginannya tersebut berhasil terlaksana. Ketika para Dewa sedang lengah, dengan tergesa ia mengambil tirta amerta dan meminumnya lalu baru seteguk dan belum sempat menelannya, Bhatara Candra memergokinya. Kalarahu pun lari tunggang-langgang dan Bhatara Candra mengejarnva hingga akhirnya Kalarahu bersembunyi, tapi tempat persembunyian itu pun diketahui oleh Bhatara Candra yang kemudian melaporkan seluruh kejadian tersebut kepada Bhatara Guru.

Bhatara Guru segera memerintahkan Bhatara Wisnu untuk memburu Kalarahu, dengan bersenjatakan cakra akhirnya Bhatara Wisnu mampu mengalahkan raja iblis itu yang kemudian memenggal kepalanya dan tubuhnya jatuh ke bumi. Potongan tubuh kalarahu selanjutnya menjelma menjadi sebuah lesung penumbuk padi, sedangkan potongan kepalanya yang tetap hidup, melayang-layang di angkasa karena ia telah sempat meminum seteguk air kehidupan (tirta amerta).

Nah. Sejak saat itu, Prabu Kalarahu merasa dendam sama Bhatara Candra. dia yang kini hanya berwujud potongan kepala tanpa badan itu selalu mengintai hendak memangsa Bhatara Candra. Sampai saat ini, sebagian masyarakat pedesaan di Pulau Jawa dan Pulau Bali mempercayai sebuah mitos bahwa bila terjadi gerhana bulan, mereka pun beramai-ramai menabuh lesung kayu dengan pukulan bertalu-talu.

Hal ini berkaitan dengan mitologi tentang Prabu Kalarahu ini, masyarakat berpendapat Prabu Kalarahu akan takut bilamana mendengar bunyi lesung di tabuh.
Para ahli mitologi curiga, tokoh Kalarahu ini ada kaitannya dengan mitologi kuna mesir. Nama Kalarahu berasal dari nama Ra’u, Ra’wi, Ra’dite, yang dalam bahasa Sanskerta berarti Matahari. Sedangkan sebutan Rahu ini besar kemungkinan berasal dari Dewa Ra’- yakni Dewa Matahari pada mitologi Mesir Kuno dan pastinya masih banyak lagi cerita rakyat yang berkaitan dengan Gerhana Matahari maupun bulan, seperti. Dilarang keluar rumah pada saat Gerhana berlangsung serta bagi Ibu Hamil harus mengumpat dikolong tempat tidur dll.

PERINGATAN ATAU KONSPIRASI???

Bagi yang lahir angkatan Tahun 80han, ada yang masih ingat akan kejadian Gerhana Matahari Total atau yang dikenal sebagai GMT. Gerhana Matahari Total 11 Juni 1983 yang sempat melewati kepulauan Indonesia. Pemerintah kala itu menyambut baik fenomena alam yang jarang terjadi ini, tapi sayangnya saya belum lahir pada saat itu. L

Pemerintah dengan semangat memberikan sosialisasi kepada masyarakat tentang tata cara pengamatan dasar GMT sampai-sampai membuat acara resmi di TVRI tentang fenomena alam tersebut, karena perintah beranggapan para ahli dunia akan berkunjung ke Indonesia untuk memburu Citra GMT ini dan itu tentunya menjadi pemasukan besar bagi pariwisata Indonesia.

Tapi entah mengapa se-jam sebelum GMT pemerintah dengan galaknya mengeluarkan Instruksi resmi pemerintah antara lain :

(1) melihat gerhana sangat berbahaya;

(2) tidak boleh keluar rumah;

(3) harus menutup pintu dan jendela;

(4) meniadakan segala kegiatan (sekolah libur, di kantor-kantor tidak boleh ada layanan publik);

(5) tidak boleh berkeliaran di halaman;

(6) toko harus tutup;

(7) kalau terpaksa keluar, harus pakai payung; plus

(8) ada juklak untuk penjaga keamanan di kampung/hansip, bahwa mereka harus berlindung di gardu saat gerhana.

Seperti tercatat di majalah Tempo edisi Juni 1983 “bahwa di mana-mana, para Bupati dan Walikota memerintahkan masyarakat mengurung diri, bahkan kalau perlu bersembunyi di kolong ranjang”

Ditambah ada rumor pada saat GMT bakal muncul Bencana Lokal melanda Indonesia karena Cuma Indonesia yang di lewati GMT, rumor itu di edarkan lantaran Indonesia sudah tidak mempan dengan mitos Prabu Kalarau yang saya ceritakan tadi di atas, maka dikeluarkan lah mitos “Bila Melihat Gerhana Bisa Buta”.

Memang secara empiris mata bisa buta bila melihat Gerhana, tapi inikan GMT..? Matahari tertutup secara TOTAL hanya saja bila melihat piringan Matahari atau Parsialnya, baru diwaspadai untuk tidak secara langsung melihat Gerhana Matahari.

Saya coba kutib sedikit dari majalah ilmiah Discover “…adalah sebuah ironi dan sungguh merupakan sebuah hal yang menyedihkan. Di saat komunitas ilmuwan internasional berbondong-bondong datang ke Indonesia–terutama ke Tanjung Kodok, Tuban–dan membawa berbagai peralatan untuk menyaksikan proses gerhana tersebut, maka Pemerintah Indonesia menyuruh rakyatnya untuk menjauh dan bersembunyi di kolong tempat tidur….”

Usut punya usut ini semua hanyalah permainan Pemerintah saat itu, pemerintah hanya ingin melihat sepatuh apa rakyat nya bila dikeluarkan intruksi seperti di atas dan bisa dibayang seperti apa kesunyian di Indonesia pada 11 Juni 1983 itu..?

Betapa Killer-nya pemerintah Indonesia kala itu mempermainkan rakyat yang tidak tahu apa-apa ini, seharusnya pemerintah lebih kopratif untuk menjadikan rakyat tahu dan pintar akan fenomena alamnya, tapi..???

Saran Penutup.

Dilarang melihat Gerhana Parsial secara telanjang, gunakan filter standar pengamatan untuk teleskop, seperti : visual white light, hidrogen alfa, dan kalsium II. Kalau diperlukan menggunakan, coleostat, yaitu alat yang menghasilkan citra dan matahari secara analog. Menggunakan tehnik jarum suntik seperti gambar dibahah ini.

Boleh juga menggunakan Film Negatif Terbakar yang dilapisi berkali-kali atau CD yang di amplas bagian putihnya hasilnya akan seperti dibawah ini.

Sumber : Kompas, Wikipedia, Orang ke 3 ku Blog

Salam Irfan.
Selamat Melihat Kekuasaan Ilahi.

HASIL CITRA YANG DI DAPAT PADA SAAT GERHANA PARSIAL 15 JANUARI 2010

FOTOGRAFER : Muhammad Irfan

Iklan

Written by ufonesia

14 Januari 2010 at 10:32 PM

70 Persen Masjid di Bengkulu Salah Kiblat

with one comment

70 Persen Masjid di Bengkulu Salah Kiblat
Sabtu, 18 Juli 2009 18:08

Bengkulu, NU Online
Sekitar 70 persen arah kiblat masjid di Provinsi Bengkulu tidak tepat atau
salah kiblat, padahal umat Islam shalat harus menghadap ke arah kiblat
(Ka’bah).

“Kami sudah survei tentang titik koordinat dan arah kiblat di 117 kecamatan
se-Provinsi Bengkulu, ternyata sebagian besar masjid salah kiblat,” kata
Kasi kemitraan umat Islam dan hisab rukyat bidurais Kanwil Depag Provinsi
Bengkulu, Herman Yatim, di Bengkulu, Jumat.

Kanwil Depag yang mulai menangani penentuan arah kiblat ini sejak empat
tahun lalu, terus melakukan penyuluhan kepada masyarakat bagaimana
menentukan arah kiblat. Menurut Herman, dinamika dan urgensi penentuan arah
kiblat menjadikan hal yang sangat rumit dan memerlukan ketelitian dalam
menghitung dan menetapkan arah yang sesungguhnya.

Beberapa ketentuan ibadah shalat dalam Islam tidak hanya dikaitkan dengan
tata cara pelaksanaan akan tetapi dikaitkan pula dengan waktu, tempat, dan
arah kiblat. Keabsahan ibadah shalat menurut syariat Islam tergantung pada
ketepatan waktu dan arah.

“Salah satu syarat terkait dengan shalat fardhu harus tepat waktu yang telah
ditentukan dan juga menghadap kiblat yang telah ditentukan,” katanya.

Kenyataan yang ada tidak sedikit arah kiblat masjid-masjid yang tidak tepat.
“Secara jujur pelaksanaan pembinaan belum sepenuhnya terealisasi secara
merata di tengah masyarakat,” katanya.

Selama ini yang berwenang dalam menangani hisab dan rukyat termasuk dalam
penentuan arah kiblat dilakukan oleh peradilan agama sebagai leading sektor.
Akan tetapi dengan keluarnya UU nomor 4 tahun 2004 tentang kekuasaan
kehakiman, maka secara otomatis peradilan agama menginduk ke Mahkamah Agung
RI.

Sedangkan salah satu tugas penanganan hisab dan rukyat tetap menjadi
tanggung jawab Depag, sehingga peradilan agama tidak lagi di bawah Depag.
Depag menempatkan hisab dan rukyat termasuk penentuan arah kiblat secara
berjenjang sampai ke kecamatan.

Pada tingkat pusat di bawahi langsung oleh Ditjen Bimas Islam (Direktur
urais dan subdit hisab rukyat). Pada tingkat Kanwil oleh bidang urais di
seksi kemitraan umat Islam, dan tingkat Kandepag kabupaten/kota pada seksi
urais dan pada tingkat kecamatan di KUA. (ant/mad)

Written by ufonesia

22 Juli 2009 at 8:16 AM

Ditulis dalam Artikel Terkait

Asia Saksikan Gerhana Matahari Terlama.

leave a comment »

Jutaan orang di Asia pekan ini akan menyaksikan gerhana matahari total terlama pada abad ini.

Fenomena alam itu akan jelas terlihat di India dan China.

Bahkan, kota Shanghai dan sejumlah pulau di selatan Jepang bakal mengalami gelap di siang hari pada hari Rabu, 22 Juli 2009, waktu setempat. Kegelapan di wilayah-wilayah itu akan berlangsung selama sekitar lima menit.

Tak heran bila para fotografer, pengamat amatir, dan tim ilmuwan berbondong bondong ke China dan India untuk menyaksikan pemandangan yang mungkin hanya terjadi sekali dalam seumur hidup. Para astronom berharap gerhana itu akan mengungkap sejumlah petunjuk mengenai matahari.

Gerhana pertama kali akan muncul pada Rabu dini hari di Teluk Khambhat, India, yang terletak di sebelah utara kota metropolis Mumbai. Pemandangan itu selanjutnya akan tampak bagian timur India, lalu di Nepal, Myanmar, Banglades, Bhutan, dan China sebelum akhirnya muncul di Pasifik.

Terhalangnya pandangan ke matahari oleh bulan dari permukaan bumi itu terakhir akan tampak di Pulau Nikumaroro, Kiribati, yang terletak di Pasifik Selatan. Namun penduduk negara-negara lain di Asia juga bisa melihat gerhana matahari, walau tidak akan total.

Bagi para astronom, gerhana itu akan menjadi peluang untuk memandangi langsung, dalam waktu relatif lama, korona matahari. Benda itu menyerupai cincin putih berjarak 1 juta kilometer dari permukaan matahari.

“Korona itu memiliki suhu 2 juta derajat, namun kami tidak tahu mengapa begitu panas,” kata Lucie Green, astronom dari University College, London. “Apa yang ingin kami saksikan adalah gelombang dalam korona. Gelombang-gelombang itu mungkin memproduksi energi pemanas. Itu berarti kami tengah menyelidiki satu elemen dari ilmu matahari,” lanjut Green.

Tim ilmuwan juga berharap bahwa gerhana nanti akan memberi petunju atas nyala solar dan struktur-struktur lain dari matahari dan mengapa bisa meletus, kata Alphonse Sterling, ilmuwan dari NASA.

Gerhana total terakhir – yaitu pada Agustus 2008 – berlangsung selama 2 menit 27 detik. Namun gerhana kali ini akan berlangsung lebih lama dan mungkin terlama dalam satu abad terakhir, yaitu 6 menit dan 39 detik
sumber : vivanews

Written by ufonesia

21 Juli 2009 at 1:00 PM

Devinisi Hilal, Rukyat dan Hisab.

with 2 comments

Hilal, Rukyat, dan Hisab

Crescent Moon Alhamdulillah…Allah menyampaikan diri kita semua pada bulan suci Ramadhan.Menjelang bulan Ramadhan, kerap kita dengar istilah hilal, rukyat, dan hisab.Apa itu hilal, rukyat, hisab? Apa kaitannya dengan bulan Ramadhan?

 

Berikut ini kumpulan beberapa artikel yang saya temukan mengenai hilal, rukyat, dan hisab. Di bagian akhir diperlihatkan pula hisab hilal awal dan akhir Ramadhan 1428 H.

Sumber : Untoro

 

HILAL

Hilal adalah penampakan bulan yang paling awal terlihat menghadap bumi setelah bulan mengalami konjungsi/ijtimak.
Bulan awal ini (bulan sabit tentunya) akan tampak di ufuk barat (maghrib) saat matahari terbenam.

Ijtimak/konjungsi adalah peristiwa yang terjadi saat jarak sudut (elongasi) suatu benda dengan benda lainnya sama dengan nol derajat.
Dalam pendekatan astronomi, konjungsi merupakan peristiwa saat matahari dan bulan berada segaris di bidang ekliptika yang sama. Pada saat tertentu, konjungsi ini dapat menyebabkan terjadinya gerhana matahari.

Hilal merupakan kriteria suatu awal bulan. Seperti kita ketahui, dalam Kalender Hijriyah, sebuah hari diawali sejak terbenamnya matahari waktu setempat, dan penentuan awal bulan (kalender) tergantung pada penampakan hilal/bulan. Karena itu, satu bulan kalender Hijriyah dapat berumur 29 hari atau 30 hari.

“Mereka bertanya kepadamu tentang hilal. Katakanlah: “Hilal itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji…” [Al Baqoroh(2):189]

HISAB

Secara harfiyah bermakna ‘perhitungan’.
Di dunia Islam istilah ‘hisab’ sering digunakan sebagai metode perhitungan matematik astronomi untuk memperkirakan posisi matahari dan bulan terhadap bumi.

Penentuan posisi matahari menjadi penting karena umat Islam untuk ibadah shalatnya menggunakan posisi matahari sebagai patokan waktu sholat.

Sedangkan penentuan posisi bulan untuk mengetahui terjadinya hilal sebagai penanda masuknya periode bulan baru dalam Kalender Hijriyah. Ini penting terutama untuk menentukan awal Ramadhan saat orang mulai berpuasa, awal Syawwal saat orang mangakhiri puasa dan merayakan Idul Fithri, serta awal Dzulhijjah saat orang akan wukuf haji di Arafah (9 Dzulhijjah) dan hari raya Idul Adha (10 Dzulhijjah)

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” [Yunus(10):5]

“Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.” [ArRahmaan(55):5]

RUKYAT

Rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang pertama kali tampak setelah terjadinya ijtimak. Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang, atau dengan alat bantu optik seperti teleskop.
Aktivitas rukyat dilakukan pada saat menjelang terbenamnya matahari pertama kali setelah ijtimak (pada waktu ini, posisi Bulan berada di ufuk barat, dan Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari). Apabila hilal terlihat, maka pada petang waktu setempat telah memasuki tanggal 1.

Perihal penentuan bulan baru, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberi perhatian khusus pada Sya’ban dan Ramadhan

Hadits dari Abi Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya (hilal bulan Syawal). Jika kalian terhalang awan, maka sempurnakanlah Sya’ban tiga puluh hari.” (HSR. Bukhari 4/106, dan Muslim 1081).

CARA PENENTUAN AWAL BULAN KALENDER HIJRIYAH

Di Indonesia, terdapat beberapa kriteria yang digunakan baik oleh pemerintah maupun organisasi Islam untuk menentukan awal bulan pada Kalender Hijriyah:

  1. Rukyatul HilalRukyatul Hilal adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan merukyat (mengamati) hilal secara langsung. Apabila hilal (bulan sabit) tidak terlihat (atau gagal terlihat), maka bulan (kalender) berjalan digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari.
  2. Wujudul Hilal (juga disebut ijtimak qoblal qurub)Kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan prinsip: Jika pada setelah terjadi ijtimak (konjungsi), Bulan terbenam setelah terbenamnya matahari, maka pada petang hari tersebut dinyatakan sebagai awal bulan (kalender) Hijriyah, tanpa melihat berapapun sudut ketinggian (altitude) Bulan saat Matahari terbenam.
  3. Imkanur Rukyat MABIMSImkanur Rukyat adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah yang ditetapkan berdasarkan Musyawarah Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), dan dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan Hijriyah pada Kalender Resmi Pemerintah.

    Kriteria yang digunakan adalah sebagai berikut:

    • Pada saat matahari terbenam, ketinggian (altitude) Bulan di atas cakrawala minimum 2°, dan sudut elongasi (jarak lengkung) Bulan-Matahari minimum 3°, atau
    • Pada saat bulan terbenam, usia Bulan minimum 8 jam, dihitung sejak ijtimak.Di Indonesia, secara tradisi pada petang hari pertama sejak terjadinya ijtimak (yakni setiap tanggal 29 pada bulan berjalan), Pemerintah Republik Indonesia melalui Badan Hisab Rukyat (BHR) melakukan kegiatan rukyat (pengamatan visibilitas hilal), dan dilanjutkan dengan Sidang Itsbat, yang memutuskan apakah pada malam tersebut telah memasuki bulan (kalender) baru, atau menggenapkan bulan berjalan menjadi 30 hari.Di samping metode Imkanur Rukyat di atas, juga terdapat kriteria lainnya yang serupa, dengan besaran sudut/angka minimum yang berbeda.
  4. Rukyat Globalkriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah yang menganut prinsip bahwa: jika satu penduduk negeri melihat hilal, maka penduduk seluruh negeri berpuasa (dalam arti luas telah memasuki bulan Hijriyah yang baru) meski yang lain mungkin belum melihatnya.

RAMADHAN 1428 H

  1. Hisab Untuk melakukannya, saya menggunakan software Stellarium (thx to Jay).

    Kondisi tanggal 29 Sya’ban 1428 H (12 September 2007M):

    Dapat dilihat di ufuk barat, menjelang matahari terbenam, posisi hilal sudah tinggi menandakan masuknya bulan baru (Ramadhan).

    Kondisi tanggal 29 Ramadhan 1428 H (11 Oktober 2007M):

    Bulan terbenam setelah terbenamnya matahari meskipun dengan sudut ketinggian yang kecil (di bawah 0,5°).
    Ini sudah cukup menandakan masuknya bulan Syawwal jika menggunakan wujudul hilal sebagai syarat bulan baru, namun perlu menggenapkan menjadi 30 hari jika menggunakan kriteria lain.

  2. Rukyat
    Ada situs yang menampilkan hilal dari beberapa kota di Indonesia secara langsung (Live Hilal – Departemen Astronomi ITB). Sayangnya saat saya coba, link yang tersedia sedang tidak dapat diakses.

     

    Untuk penentuan awal bulan Syawwal tentunya belum dapat dilihat sekarang, baru dapat dilihat pada tanggal 29 Ramadhan 1428 H (11 Oktober 2007M) nanti.

Wallahu’alam.

Sumber:

Written by ufonesia

23 Juni 2009 at 7:22 PM

Ditulis dalam Artikel Terkait

PERAN HAKIM PENGADILAN AGAMA DALAM PENENTUAN AWAL BULAN HIJRIYAH

leave a comment »

PENULIS : Achmad Fathoni Ramli
JUDUL : PERAN HAKIM PENGADILAN AGAMA DALAM PENENTUAN AWAL BULAN HIJRIYAH

Sumber

Sebentar lagi kita umat Islam segera melaksanakan shaum Ramadlan 1429 Hijriyah, berdasarkan hisab, apakah hal itu dimulai pada tanggal satu September ataukah 02 September 2008. Kemudian diikuti dengan satu syawal, apakah pada tanggal 30 September ataukah 01 Oktober 2008? Tetapi semuanya itu berpangkal kepada ketetapan satu Ramadlan oleh Pemerintah dan adanya semangat “athi’ullah wa ‘athiur Rasul wa ulil Amri minkum”.

Kegiatan untuk menghitung terjadinya ramadlan, syawal maupun wukuf, telah dilakukan oleh para pakar hisab dan telah menjadi hasil ketetapan di Badan Hisab Rukyat Pusat yang anggota-anggotanya dari berbagai ormas Islam yang ada di Indonesia, terutama NU dan Muhammadiyah.

Kalau secara explisit Muhammadiyah telah dengan pasti mengumumkan tanggal satu Ramadlan jatuh pada hari Senin, 01 September 2008, sedangkan NU menunggu hasil rukyat. Padahal di dalam hasil penetapan Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam pada tanggal 27-29 Februari 2008 M / 20-22 Shafar 1429 H, di Hotel Ria Diani, Jalan Raya Puncak III, Cibogo Bogor Jawa Barat bersama dengan anggota BHR Pusat telah dinyatakan bahwa “Untuk pelaksanaan ibadah (1 Ramadlan) menunggu hasil sidang itsbat awal Ramadlan 1429 H yang dipimpin oleh Menteri Agama”.

Salah satu keputusan bersama tsb juga berupa pengertian tentang rukyatul hilal. Rukyatul hilal adalah melihat bulan dengan mata atau dengan alat untuk mengetahui awal bulan qamariyah. Keteraturan peredaran bulan memungkinkan manusia untuk mengetahui posisi-posisi bulan melalui hisab (perhitungan). Hisab yang akurat adalah yang terbuktikan oleh rukyat yang cermat, sehingga hisab yang akurat memiliki posisi yang sama dengan rukyat yang cermat sebagai cara untuk menentukan awal bulan qamariyah. Saat ini redefinisi rukyatul hilal perlu dilakukan, karena selama ini ada tiga definisi rukyatul hilal: hilal nyata (dengan rukyat bil fi’li), hilal potensial (dengan imkanur rukyat), dan hilal teoritik (dengan wujudul hilal). Dalil-dalil syar’i tidak memberikan definisi teknis hilal dan cara rukyatul hilal, sehingga pendekatannya lebih menekankan pada makna bahasa. Perkembangan mutakhir mengarahkan pendefinisian rukyatul hilal berdasarkan kriteria hisab rukyat untuk aplikasi pada rukyat maupun hisab. Untuk pembuatan taqwim standar kriteria hisab rukyat tersebut perlu dikaji ulang.

Awal Ramadlan 1429 H

Semua sistem hisab sepakat bahwa ijtima` menjelang awal bulan Ramadlan 1429 H jatuh pada hari Ahad, 31 Agustus 2008 M, bertepatan dengan tanggal 29 Sya’ban 1429 H sekitar pukul 03:00 WIB. Pada hari rukyat 29 Sya’ban 1429 H, Ahad (31 Agustus 2008 M) ketinggian hilal di seluruh wilayah Indonesia sudah di atas ufuk antara 4° 17′ 32” sampai dengan 5° 20′ 17”. Untuk pelaksanaan ibadah (1 Ramadlan) menunggu hasil sidang itsbat awal Ramadlan 1429 H yang dipimpin oleh Menteri Agama.

Awal Syawal 1429 H

Semua sistem hisab sepakat bahwa ijtima` menjelang awal bulan Syawal 1429 H jatuh pada hari Senin, 29 September 2008 M, bertepatan dengan tanggal 29 Ramadlan 1429 H sekitar pukul 15:13 WIB. Pada hari rukyat 29 Ramadlan 1429 H, Senin (29 September 2008 M) ketinggian hilal di seluruh wilayah Indonesia masih di bawah ufuk antara -2° 21′ 49” sampai dengan -1° 18′ 02”. Untuk pelaksanaan ibadah (1 Syawal) menunggu hasil sidang itsbat awal Syawal 1429 H yang dipimpin oleh Menteri Agama.

Berdasarkan pengalaman selama ini, apabila hasil hisab menentukan hilal di atas 2° apalagi sekarang sudah di atas 4°, maka para ahli rukyatul hilal, ada satu atau bahkan beberapa orang yang mengaku melihat hilal di atas ufuk dan dengan demikian, sudah dapat dipastikan bahwa seluruh umat Islam di Indonesia sepakat dan sama dalam melaksanakan hari pertama Ramadlan.

Lain halnya yang didapat hasil hisab di bawah 2°. Biasanya yang terjadi selama ini, sebagian umat Islam sudah memulainya, dan yang lainnya menunggu hasil rukyat. Diperoleh data selama ini, rukyatul hilal dalam posisi di bawah 2° sangat sulit untuk melihatnya, sehingga sering terjadi perbedaan awal Ramadlan ataupun awal syawal bahkan untuk hari wukuf dan idul Adha.

Bagaimana sikap umat Islam dan ormas dalam menyikapi hasil hisab di atas? Kemungkinan dalam memulai satu Ramadlan akan sama satu sama lain karena hasil hisab akan didukung dengan hasil rukyat (dengan adanya orang yang mengaku melihatnya di satu tempat atau beberapa tempat di Indonesia), meskipun posisi hilal antara 2° dan 4° belum tentu dapat terlihat, karena dapat terkoreksi dengan cuaca dimana rukyat dilaksanakan.

Oleh karena itu, perlu kecermatan dalam menanggapi adanya kesaksian rukyatul hilal.

Bagaimana juga posisi dan peran Hakim Pengadilan Agama dalam menentukan itsbat rukyatul hilal?
Berdasarkan Pasal 2 UU Nomor 3 Tahun 2006: “Peradilan Agama adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara tertentu sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini”.

Written by ufonesia

7 Juni 2009 at 5:31 PM

Ditulis dalam Artikel Terkait